Jumat, 29 Mei 2009

laporan budidaya plankton sebagai pakan alami


LAPORAN PRATIKUM PLANKTINOLOGI BUDIDAYA PAKAN ALAMI

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS PRATIKUM PLANKTONOLOGI


Disusun Oleh:


Alusia Anjani 230110080097

PERIKANAN B







FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
JURUSAN PERIKANAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
KAMPUS JATINANGOR
2009


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fitoplankton merupakan jenis alga, termasuk ke dalam sub filum Thallofita yang mempunyai klorofil. Fitoplankton yang ada di seluruh dunia adalah sebagai produsen primer, dapat menyediakan makanan untuk fauna lebih banyak daripada seluruh flora yang ada di daratan. Kapasitas fotosintesis dari semua fitoplankton yang ada di laut lebih besar daripada seluruh flora yang ada di daratan. Dengan adanya konsentrasi fitoplankton yang besar di laut maka terdapat banyak zooplankton sebagai konsumen primer bagi ikan, udang-udangan dan sebagainya. Penyebarluasan teknologi dalam bidang budidaya fitoplankton berperan penting bagi pembenihan ikan dan udang laut. Dua jenis fitoplankton Chlorella sp. dan Daphnia telah digunakan dalam praktek budidaya fitoplankton ini.

1.2 Tujuan
Tujuan melakukan pratikum ini untuk membudidaya fifoplankton sebagai pakan alami bagi zooplankton



























BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Chlorella

Chlorella adalah
genus ganggang hijau bersel tunggal yang hidup di air tawar, laut, dan tempat basah. Ganggang ini memiliki tubuh seperti bola. Di dalam tubuhnya terdapat kloroplas berbentuk mangkuk. Perkembangbiakannya terjadi secara vegetatif dengan membelah diri. Setiap selnya mampu membelah diri dan menghasilkan empat sel baru yang tidak mempunyai flagel. Ganggang ini sering digunakan di laboratorium untuk penyelidikan fotosintesis. Karena sifatnya yang unik, para ahli berpendapat bahwa Chlorella dapat ikut mengatasi kebutuhan pangan manusia di masa yang akan datang.
Chlorella merupakan salah satu jenis fitoplankton yang banyak digunakan untuk berbagai keperluan, salah satunya digunakan sebagai makanan rotifera atau sebagai media budidaya larva ikan. Budidaya Chlorella terdiri dari serangkaian kegiatan yang antara lain meliputi persiapan wadah dan air yang meliputi pencucian dan sanitasi wadah. Selanjutnya diikuti oleh kegiatan identifikasi, pemupukan dan inokulasi Chlorella di laboratorium.
Budidaya Chlorella dapat dilakukan dalam skala laboratorium dan skala lapangan. Dalam budidaya Chlorella di skala laboratorium digunakan wadah berupa erlenmeyer. Hasil budidaya pada skala laboratorium pada umumnya digunakan sebagai stock untuk budidaya massal. Dalam kegiatan budidaya skala laboratorium wadah harus dibersihkan dan disanitasi. Umumnya pencucian dapat menggunakan deterjen dan dibilas sampai bersih kemudian dikeringkan. Setelah kering kemudian wadah disanitasikan dengan cara direbus pada suhu 110 o C. Air yang digunakan juga harus bersih. Air yang digunakan dapat berupa air sumur atau air mata air atau akuades. Untuk air mata air atau air sumur sebaik air difilter terlebih dahulu untuk menyaring partikel yang tersuspensi dalam air. Selajutnya air juga harus disanitasi dengan cara merebus air sampai mendidih, sehingga air yang digunakan bebas dari kontaminasi plankton lain. Selanjutnya toples yang sudah diisi air sebanyak satu liter ditempatkan pada rak yang dilengkapi dengan selang aerasi dan lampu neon. Hal ini dilakukan supaya cahaya cukup untuk proses fotosintesis Chlorella, yang memerlukan intensitas cahaya antara 2500 – 5000 lux dan agar Chlorella tidak mengendap. Dalam budidaya di dalam laboratorium sebaiknya dilakukan pada suhu antara 21-25 o C, dengan tujuan agar pertumbuhannya tidak terlalu cepat.

2.1.1 Klasifikasi chlorella

Filum : Chlorophyta
Kelas : Chlorophyceae
Ordo : Chlorococcales
Famili : Chlorellaceae
Genus : Chlorella
Spesies : Chlorella sp.


2.1.2 Morfologi dan habitat chorella

Sel Chlorella berbentuk bulat, hidup soliter, berukuran 2-8 ┬Ám. Dalam sel Chlorella mengandung 50% protein, lemak serta vitamin A, B, D, E dan K, disamping banyak terdapat pigmen hijau (klorofil) yang berfungsi sebagai katalisator dalam proses fotosintesis (Sachlan, 1982).
Sel Chlorella umumnya dijumpai sendiri, kadang-kadang bergerombol. Protoplast sel dikelilingi oleh membrane yang selektif, sedangkan di luar membran sel terdapat dinding yang tebal terdiri dari sellulosa dan pektin. Di dalam sel terdapat suatu protoplast yang tipis berbentuk seperti cawan atau lonceng dengan posisi menghadap ke atas. Pineroid-pineroid stigma dan vacuola kontraktil tidak ada (Vashista, 1979). Warna hijau pada alga ini disebabkan selnya mengandung klorofil a dan b dalam jumlah yang besar, di samping karotin dan xantofil (Volesky, 1970).
Chlorella tumbuh pada salinitas 25 ppt. Alga tumbuh lambat pada salinitas 15 ppm, dan hampir tidak tumbuh pada salinitas 0 ppm dan 60 ppm. Chlorella tumbuh baik pada suhu 200 C, tetapi tumbuh lambat pada suhu 32 o C. Tumbuh sangat baik sekitar 20 o -23 o C (Hirata, 1981).

2.1.3 Reproduksi

Menurut Presscott (1978) Chlorella sp. berkembang biak dengan membelah diri membentuk autospora. Sedangkan pada waktu membelah diri membentuk autospora, Chlorella sp. melalui empat fase siklus hidup (hase, 1962; Kumar and Singh, 1981).
Keempat fase tersebut adalah :
1. Fase pertumbuhan (growth), periode perkembangan aktif sel massa yaitu
autospora tumbuh menjadi besar.
2. Fase pematangan awal (early revening), autospora yang telah tumbuh menjadi
besar mengadakan persiapan untuk membagi selnya menjadi sel-sel baru.
3. Fase pematangan akhir (late revening), sel-sel yang baru tersebut mengadakan
pembelahan menjadi dua.
4. Fase autospora (autospora liberation), pada fase ini sel induk akan pecah dan
akhirnya terlepas menjadi sel-sel baru.

2.1.4 Perlakuan yang diberikan

Chlorella ditempatkan pada rak yang dilengkapi dengan selang aerasi dan lampu neon. Hal ini dilakukan supaya cahaya cukup untuk proses fotosintesis Chlorella, yang memerlukan intensitas cahaya antara 2500 – 5000 lux dan agar Chlorella tidak mengendap.
Dilakukan pada suhu antara 21-25 o C, dengan tujuan agar pertumbuhannya tidak terlalu cepat.





2.1.5 Pemberian pakan pada chorella

Adapun pupuk yang dapat digunakan untuk skala laboratorium adalah pupuk Walne, dengan dosis:

Komposisi Jumlah Komposisi Jumlah
Larutan A:

FeCl3 0.8 g
Mn Cl2.4H20 0.4 g
H3BO3 33.6 g
EDTA 45.0 g
NaH2PO4.2H20 20.0 g
NaNO3 100 g
Komposisi B 1.0 ml
Komposisi C 0.1 ml


Buat menjadi 1 l larutan dengan
aquadest
Larutan B:

ZnCL2 2.1 g
CoCl2.6H2O 2.0 g
(NH4)6Mo7O24.4H2O 0.9 g
CuSO4.5H2O 2.0 g
HCl 10.0 ml


Buat menjadi 100 ml dengan aquadest
Panaskan agar larut
Larutan C:

Vitamin B1 0.2 g
Vitamin B12 0.01 g
Buat menjadi 200 ml dengan aquadest


2.2 Daphnia

Daphnia adalah jenis zooplankton yang hidup di air tawar yang mendiami kolam-kolam, sawah dan perairan umum (danau) yang banyak mengandung bahan organik. Sebagai organisme air, Daphnia dapat hidup di perairan yang berkualitas baik. Beberapa faktor ekologi perairan yang berpengaruh terhadap perkembangbiakan Daphnia antara lain adalah kesadahan, suhu, oksigen terlarut dan pH.
Daphnia seringkali dikenal sebagai kutu air karena kemiripan bentuk dan cara bergeraknya yang menyerupai seekor kutu. Pada kenyataannya Daphnia termasuk dalam golongan udang-udangan dan tidak ada hubungannya dengan kutu secara taxonomi. Daphnia merupakan udang-udangan renik air tawar dari golongan Brachiopoda. Mereka boleh dikatakan masih saudara dengan Artemia. Meskipun gerakannya tampak "meloncat" seperti seekor kutu sebenarnya binatang ini berenang dengan menggunakan "kakinya" (sering disebut sebagai antena), bahkan dengan berbagai gaya yang berbeda. Apabila anda menjumpai hewan renik yang meloncat di permukaan air, boleh dipastikan itu bukanlah Daphnia melainkan Cyclops.
Daphnia merupakan sumber pakan bagi ikan kecil, burayak dan juga hewan kecil lainnya. Kandungan proteinnya bisa mencapai lebih dari 70% kadar bahan kering. Secara umum, dapat dikatakan terdiri dari 95% air, 4% protein, 0.54 % lemak, 0.67 % karbohidrat dan 0.15 % abu. Kepopulerannya sebagai pakan ikan selain karena kandungan gizinya serta ukurannya, adalah juga karena "kemudahannya" dibudidayakan sehingga dapat tersedia dalam jumlah mencukupi, hampir setiap saat.


2.2.1 Klasifikasi Daphnia

Daphnia sp. dapat diklasifikasikan dalam :
Philum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Sub Klas : Branchiopoda
Divisi : Oligobranchiopoda
Ordo : Cladocera
Famili : Daphnidae
Genus : Daphnia
Spesies : Daphnia sp.

2.2.2 Morfologi dan habitat Daphnia

Bentuk tubuh Daphnia sp. lonjong dan segmen badan tidak terlihat (Gambar 2). Pada bagian ventral kepala terdapat paruh. Kepala mempunyai lima pasang apendik, yang pertama disebut antenna pertama, kedua disebut antenna kedua yang mempunyai fungsi utama sebagai alat gerak. Tiga pasang yang terakhir adalah bagian-bagian dari mulut.
Tubuh ditutupi oleh cangkang dari kutikula yang mengandung khitin yang transparan, di bagian dorsal bersatu, tetapi dibagian ventral terbuka dan terdapat lima pasang kaki. Ruang antara cangkang dan tubuh bagian dorsal merupakan tempat pengeraman telur. Pada ujung post abdomen terdapat dua kuku yang berduri kecil-kecilPertambahan ukuran terjadi sesaat setelah telur menetas didalam ruang pengeraman.

2.2.3 Reproduksi

. Pada habitat aslinya, Daphnia sp. berkembang- biak secara parthenogenesis. Perbandingan jenis kelamin atau “sex ratio” pada Daphnidae menunjukkan keragaman dan tergantung pada kondisi lingkungannya. Pada lingkungan yang baik, hanya terbentuk individu betina tanpa individu jantan. Pada kondisi ini, telur dierami di dalam kantong pengeraman hingga menetas dan anak Daphnia sp. dikeluarkan pada waktu pergantian kulit. Didalam kondisi yang mulai memburuk, disamping individu betina dihasilkan individu jantan yang dapat mendominasi populasi dengan perbandingan 1 : 27. Dengan munculnya individu jantan, populasi yang bereproduksi secara seksual akan membentuk efipia atau “resting egg” disebut juga siste yang akan menetas jika kondisi perairan baik kembali.


Terbentuknya telur-telur yang menghasilkan individu jantan dirangsang oleh :
1. Melimpahnya individu betina yang mengakibatkan akumulasi hasil ekspresi
2. Berkurangnya makanan yang tersedia
3. Menurunnya suhu air dari 25-30 menjadi 14-17 0 C
Kondisi-kondisi tersebut dapat mengubah metabolisme Daphnia sp. sehingga dapat mempengaruhi mekanisme kromosomnya. Di daerah tropis, Daphnia sp. yang didatangkan dari daerah subtropis seringkali juga membentuk efipia pada musim kemarau. Daphnia sp. dewasa berukuran 2,5 mm anak pertama sebesar 0,8 mm dihasilkan secara parthenogenesis. Daphnia sp. mulai menghasilkan anak pertama kali pada umur 4-6 hari. Pada lingkungan yang bersuhu antara 22 – 31 0 C pH antara 6,6 – 7,4 Daphnia sp. sudah menjadi dewasa dalam waktu empat hari dengan umur yang dapat dicapai hanya 12 hari. Setiap satu atau dua hari sekali, Daphnia sp. akan beranak 29 ekor. Jadi selama hidupnya hanya dapat beranak tujuh kali dengan jumlah yang dihasilkan 200 ekor. Selama hidupnya Daphnia sp. mengalami empat periode yaitu telur, anak, remaja dan dewasa.


2.2.4 Perlakuan yang diberikan

Daphnia bisa terhindar dari intensitas cahaya matahari yang tinggi pada siang hari. Biasanya pada siang hari Daphnia akan berenang ke dasar wadah untuk menghindari intensitas cahaya dan suhu yang tinggi.
Daphnia juga diberi aerator yang berfungsi untuk menghasilkan oksigen di dalam wadah budidaya agar nilai oksigen terlarut di wadah tersebut diatas 3,5 ppm dan kadar amonia kurang dari 0,2 mg/liter.

2.2.5 Pemberian pakan pada Daphnia
Daphnia memakan berbagai macam bakteri, ragi, alga bersel tunggal, dan detritus. Bakteri dan fungi menduduki urutan teratas dari nilai nutrisi baginya. Sedangkan makanan utama bagi Daphnia adalah alga dan protozoa. Daphnia mengambil makanannya dengan cara menyaring makanan atau “filter feeding”. Gerakan yang kompleks dari kaki-kaki toraks menghasilkan arus air yang konstan. Gerakan kaki-kaki tersebut berperan penting dalam proses pengambilan makanan. Pasangan kaki ketiga dan ke empat dipakai untuk menyaring makanan, sedang kaki pertama dan kedua digunakan untuk menimbulkan arus air sehingga partikel-partikel tersuspensi bergerak ke arah mulut. Partikel-partikel makanan yang tertahan kemudian tersaring oleh setae,
selanjutnya digerakan ke bagian mulut dan ditelan oleh Daphnia.







BAB IIIPROSEDUR PERCOBAAN


3.1 Prosedur kegiatan budidaya Chlorella
3.1.1 Waktu dan tempat

Hari/ tanggal : Selasa, 5 Mei 2009
Tempat : Laboratorium Gedung Baru FPIK

3.1.2 Alat dan bahan

-Bibit chorella
-Mikroskop
-Aquades
-Gelas ukur
-Cover glass
-Hemositometer
-Pupuk Walne untuk fitoplankton
-Pipet
-Toples + tutup
-Aerasi
-Lampu neon
-Handcounter
-Kalkulator

3.1.3 Prosedur percobaan
-Menyiapkan toples+ tutupnya yang telah dibersihkan terlebih dahulu
-Menghitung kepadatan awal dan jumlah air aquades dengan rumus:
-Rata- rata = A1+A2+A3+A4+A5/ 5
Di cari N2 dengan rumus :
Rata-rata x kotak (cover glass) yang digunakan x 104

Di cari V2 :
V1N1 = V2N2
Dimana V1 = 2 liter
N1 = 1 juta sel
V2 = jumlah ml chlorella yang di masukan dalam tpoles
2 liter – V2 = jumlah air aquades yang akan di masukan dalam tpoles
-Masukan jumlah chlorella dan aquades dalam toples
-Tambahkan pupuk dengan dosis 2,6 ml/l
-Simpan dan beri aerasi
-Pasang lampu Neon
-Hitung setiap 2x sehari
-Hari ke 7 siap panen

3.1.4 Pengamatan pratikum

- Pada penanaman chlorella yang pertama 5 Mei 2009
Dengan kepadatan rata-rata 15 x 106 sel/ 2 ml
Jumlah V2 = 133 ml
Jumlah aquades yang diberikan 1867 ml

- Pengamatan ke 2 tanggal 7 Mei 2009
Rata- rata kepadatan 3 x 106 sel/ ml

- Pengamatan ke 3 tanggal 9 Mei 2009
Rata- rata kepadatan 1,8 x 106 sel/ ml

- Pengamatan ke 4 tanggal 11 Mei 2009
Rata- rata kepadatan 1,3 x 106 sel/ ml

- Pengamatan ke 5 tanggal 12 Mei 2009
Rata- rata kepadatan 1,25 x 106 sel/ ml

- Dalam 100 ml chlorella di amati sebanyak 3x,
kepadatan 1 = 1,35 x 106 sel/ ml
kepadatan 2 = 0,9 x 106 sel/ ml
kepadatan 3 = 1,25 x 106 sel/ ml
rata- rata 1+2+3 = 1,2 x 106 sel/ ml
3
Rata- rata x 2000ml = 1,2 x 106 x 2000 = 2400 x 106

Maka jumlah chlorella dalam 2 liter air adalah 2400 x 106 sel/ 2 ml

















3.2 Prosedur kegiatan budidaya Daphnia
3.2.1 Waktu dan tempat

Hari/ tanggal : Selasa, 12 Mei 2009
Tempat : Laboratorium Gedung Baru FPIK


3.2.2 Alat dan bahan
-Pupuk (humus) 10 gr
-Kain kasa
-Neraca timbangan
-Sendok
-Plankton net
-Pipet
-Aquarium
-Aquades
-Aerasi

3.2.3 Prosedur percobaan
-Menyiapkan aquarium yang telah ibersihkan terlebih dahulu
-Masukan aquades 10 liter kedalam aquarium
-Tambahkan pupuk 10 gr dengan dibungkus kain kasa kedalam aquarium
-Hari selanjutnya (besok), hitung kepadatan awal bibit daphnia
-Di isi dengan 5000 ekor daphnia yang telah disiapkan
-Setiap 2 hari sekali di ukur kapadatan dan ukuran daphnia
-Hari ke 7, siap panen


3.2.4 Pengamatan pratikum


















BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil pengamatan Chlorella

Dalam 100 ml chlorella di amati sebanyak 3x,
kepadatan 1 = 1,35 x 106 sel/ ml
kepadatan 2 = 0,9 x 106 sel/ ml
kepadatan 3 = 1,25 x 106 sel/ ml
rata- rata 1+2+3 = 1,2 x 106 sel/ ml
3
Rata- rata x 2000ml = 1,2 x 106 x 2000 = 2400 x 106

Maka jumlah chlorella dalam 2 liter air adalah 2400 x 106 sel/ 2 ml

4.2 Hasil pengamatan Daphnia




























BAB V
KESIMPULAN

Kultur murni fitoplankton (Chorella sp. dan Daphnia) perlu dilakukan secara intensif untuk menyediakan makanan alami dalam jumlah yang cukup, tepat waktu dan berkesinambungan. Mengingat pentingnya pakan alami tersebut sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan usaha pembenihan ikan dan udang. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan kegiatan kultur murni fitoplankton adalah kualitas air yang meliputi suhu, salinitas, kekuatan cahaya, dan pH. Keberhasilan media dan semua peralatan yang digunakan selama kultur, pemupukan serta aerasi yang diberikan secara terus menerus. Berdasarkan hasil pengamatan selama kultur, laju pertumbuhan Chorella sp. dan Daphnia selalu mengalami peningkatan setiap harinya. Di samping itu, tidak terdeteksi adanya kontaminasi. Suhu media berkisar antara 21o -24o C, sedangkan suhu ruangan berkisar antara 20o -27o C. Pencahayaan menggunakan lampu neon, dan aerasi diberikan secara trus menerus selama pelaksanaan kultur murni fitoplankton.































BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

http://filepedeef.blogspot.com/2009/04/budidaya-pakan-alami-air-tawar-modul.html

http://mirror.unej.ac.id/onnowpurbo/pendidikan/materi-kejuruan/pertanian/budi-daya-ikan-air-tawar/budidaya_pakan_alami_air_tawar_budidaya_chlorella.pdf

http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/KULTUR%20FITOPLANKTON.PDF

http://id.wikipedia.org/wiki/Chlorella

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Chlorella&ei=QNUUSsKeBKfs6gPXh-HCCg&sa=X&oi=translate&resnum=2&ct=result&prev=/search%3Fq%3Dchlorella%26hl%3Did%26sa%3DG

http://ferryaquakulture.blogspot.com/2009/04/budidaya-daphnia-sp.html

http://iaspbcikaret.org/index.php?option=com_content&view=article&id=161:daphnia-sp-kultur-budidaya&catid=34:budidaya-air-tawar&Itemid=50

http://www.o-fish.com/PakanIkan/Daphnia.htm

http://www.o-fish.com/PakanIkan/daphnia_2.php

http://mirror.unej.ac.id/onnowpurbo/pendidikan/materi-kejuruan/pertanian/budi-daya-ikan-air-tawar/budidaya_pakan_alami_air_tawar_budidaya_daphnia.pdf

http://en.wikipedia.org/wiki/Daphnia

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Daphnia&ei=r9UUStu7F9OTkAXNrOD2DA&sa=X&oi=translate&resnum=1&ct=result&prev=/search%3Fq%3Ddaphnia%26hl%3Did%26sa%3DX

1 komentar:

  1. trims,,tulisan sangat membantu saya..klo boleh nanya lagi bagaimana proses perkembangan pupuk menjadi plankton?tolong ya please!!!!!!!!!!

    BalasHapus